El Nino hingga Januari juga membuat petani mesti petani mengubah pola pertanian dengan metode pertanian hemat air. Caranya yakni dengan sesekali mengeringkan lahan mengikuti pola cuaca yang terpengaruh El Nino.
Dia pun mengakui, pola ini memiliki kelemahan, yakni pertumbuhan gulma akan bertambah cepat. Akan tetapi, dengan perawatan dan pendangiran intensif, menurut dia, hasil panen yang didapat pun tak kalah dengan sawah yang airnya cukup.
"Varietas Ciherang itu lebih resisten. Kelemahannya, perkembangan gulma lebih banyak jadi harus dikelola lebih intensif," dia menerangkan.
Di luar dampak negatif El Nino yang menyebabkan musim penghujan mundur, musim kemarau lebih panjang juga berakibat positif. Kemarau lebih panjang memastikan perkembangbiakan hama dan penyakit beserta inangnya benar-benar terputus.
Hal ini berbeda jika kemarau basah dan pendek. Penyakit masih berpotensi muncul pada musim tanam berikutnya meski sudah disela dengan tanaman palawija.
"Contohnya, kalau yang tidak pernah terputus itu, penyakitnya akan bertambah banyak," ujarnya.
Dia menambahkan, di Banyumas ada sekitar 16 ribu hektare lahan yang perpengaruh curah hujan. Yakni, 10 ribu hektare sawah dan 6 ribu hektare ladang yang biasa ditanami padi gogo. Dari 10 ribu hektare itu, sekitar tujuh ribu hektare merupakan lahan tadah hujan.
Adapun lainnya adalah lahan yang teraliri irigasi namun sungainya sangat bergantung pada cuaca. Secara total, Banyumas memiliki lahan sawah sekitar 32 ribu hektare.
Pada 2018 ini, ada sekitar 4.000 hektare di kawasan lereng Gunung Slamet yang tak pernah putus panen. Karenanya, ia menjamin ketahanan pangan Banyumas.
"Kita di Bulog informasi terakhir tersedia 40 ribu ton beras. Kita masih aman," dia menambahkan.
Saksikan video pilihan berikut ini:
No comments:
Post a Comment