| Kisah inspiratif para korban Bom Bali menjalani hidup agar lepas dari situasi sulit direkam dengan baik oleh Ni Komang Erviani, salah satu penulis buku "Luka Bom Bali". Dalam acara bedah buku dan diskusi yang digelar di Warung Kubu Kopi itu, Erviani menilai perekonomian Bali yang sempat terpuruk akibat peristiwa itu, kembali pulih bahkan semakin meroket. Indikatornya sederhana, kata dia, jalanan di kawasan Kuta semakin macet, hotel-hotel baru terus bertumbuh, vila-vila semakin menjamur. Perlahan tapi pasti, kata perempuan yang karib disapa Ervi itu, masyarakat Bali mencoba mengubur kenangan buram itu. Hanya sebuah monumen di lokasi ledakan itu yang tersisa. Monumen Bom Bali itu bahkan kini menjadi tempat wisata wajib bagi wisatawan asing dan domestik saat berkunjung ke Bali. "Banyak di antara mereka bahkan selfie di depan monument dengan ekspresi kegembiraan," kata Ervi, Senin, 30 Oktober 2017. Tak ada yang salah dengan itu semua menurutnya. Semua orang harus terus melangkah maju ke depan. Namun bagi sejumlah orang, peristiwa itu tak pernah bisa dilupakan. Masih ada luka yang terus dibawa. Tak hanya luka fisik, katanya, tetapi juga luka psikis. "Sebagian orang mungkin sudah bisa melupakan peristiwa tragis itu, tapi tidak bagi mereka. Peristiwa itu telah mengubah total hidup mereka. Masih ada luka-luka yang harus mereka rasakan, luka yang terlupakan oleh kita semua," ujarnya. Dua penyintas Bom Bali bersuara. Thiolina Marpaung dan Jatmiko mengaku masih merasakan kegetiran meski peristiwa itu telah 15 tahun berlalu. Keduanya sepakat pemerintah belum hadir memenuhi kebutuhan mereka. Mereka merasa luka-luka yang ditinggalkan akibat peristiwa itu masih membekas hingga kini. Baik Thiolina maupun Jatmiko, masih harus menjalani perawatan medis dengan merogoh kocek pribadinya. "Saya harus mengganti retina mata saya yang sewaktu kejadian rusak akibat mata saya kemasukan pecahan kaca," kata Theolina yang diamini Jatmiko. Sementara, Jatmiko selalu tak kuasa menahan tangis jika harus mengenang perisitwa itu. Air matanya selalu tumpah mengingat mata pencarian mereka hilang akibat peristiwa itu. "Saya selalu begini (menangis) tiap kali mengingat peristiwa itu. Kejadian itu peristiwa yang sangat monumental dalam hidup saya. Peristiwa itu mengubah hidup saya menjadi kelam," katanya. Theolina dan Jatmiko berharap pemerintah hadir di tengah hidup mereka. Tujuannya, agar mereka, para korban, dapat kembali memutar roda ekonomi yang terenggut sejak peristiwa itu terjadi. Sejak Bom Bali terjadi, mereka mengalami luka fisik serius. Pekerjaan sulit mereka dapatkan. Dalam situasi itu, keduanya berharap pemerintah bisa memfasilitasi mereka dan para korban lainnya dalam memutar roda ekonomi menyambung hidup. "Kita sangat mengharapkan pemerintah hadir di tengah-tengah kita bagaimana mereka membantu kami kembali mencari nafkah. Selama ini, kami seperti dibiarkan sendiri di tengah keterbatasan kami karena luka fisik akibat peristiwa itu," kata Jatmiko diamini Theolina. Let's block ads! (Why?) October 12, 2018 at 12:01PM via Berita Hari Ini, Kabar Harian Terbaru Terkini Indonesia - Liputan6.com https://ift.tt/2CbDXkH |
No comments:
Post a Comment